Sejarah Ditemukannya Candi Borobudur: Dari Tertimbun Hutan hingga Diakui Dunia
Candi Borobudur adalah salah satu mahakarya peradaban dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia. Berdiri megah di Jawa Tengah, candi Buddha terbesar di dunia ini kini dikenal luas sebagai warisan budaya dunia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa Candi Borobudur sempat terlupakan dan tertimbun selama ratusan tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali. Proses penemuannya memiliki sejarah panjang yang menarik, melibatkan kolonialisme, penelitian arkeologi, dan upaya pelestarian besar-besaran.
Artikel ini akan membahas secara lengkap sejarah ditemukannya Candi Borobudur, mulai dari latar belakang hilangnya candi, proses penemuan kembali, hingga dampaknya bagi dunia.
Candi Borobudur di Masa Kejayaannya
Sebelum membahas penemuannya kembali, penting memahami bahwa Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Candi ini menjadi pusat ibadah Buddha Mahayana sekaligus simbol kemajuan spiritual dan arsitektur Nusantara kuno.
Borobudur dibangun dengan konsep mandala dan dihiasi ribuan relief serta ratusan arca Buddha. Pada masanya, Borobudur merupakan pusat keagamaan yang ramai dan sakral.
Mengapa Candi Borobudur Sempat Hilang?
Seiring berjalannya waktu, Borobudur perlahan ditinggalkan. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan candi ini terlupakan:
Pertama, pergeseran pusat kekuasaan dan keagamaan di Jawa. Ketika kerajaan-kerajaan Jawa berpindah ke wilayah timur, aktivitas keagamaan di Borobudur menurun drastis.
Kedua, bencana alam, khususnya letusan gunung berapi di sekitar wilayah Jawa Tengah. Abu vulkanik secara bertahap menimbun bangunan candi.
Ketiga, pertumbuhan hutan dan semak belukar. Tanpa perawatan manusia, Borobudur tertutup tanah, pepohonan, dan vegetasi lebat hingga nyaris tak terlihat.
Akibat kombinasi faktor tersebut, Borobudur akhirnya terlupakan oleh masyarakat selama berabad-abad dan hanya hidup dalam cerita rakyat setempat.
Latar Belakang Penemuan Kembali Borobudur
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur kembali bermula pada awal abad ke-19, saat Indonesia berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Pada tahun 1811–1816, Pulau Jawa dikuasai oleh Inggris, dan gubernur jenderalnya saat itu adalah Thomas Stamford Raffles.
Raffles dikenal sebagai sosok yang memiliki minat besar terhadap sejarah dan kebudayaan Jawa. Ia sering mengumpulkan informasi tentang peninggalan kuno dari masyarakat lokal dan pejabat bawahannya.
Laporan tentang Candi Tertimbun
Menurut catatan sejarah, Raffles menerima laporan dari penduduk setempat mengenai adanya bangunan batu besar yang tertimbun tanah di daerah Kedu, Jawa Tengah. Bangunan tersebut diyakini sebagai peninggalan kuno yang belum pernah diteliti secara serius.
Tertarik dengan laporan tersebut, Raffles kemudian memerintahkan seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi yang dimaksud.
Proses Penemuan Kembali Borobudur
Pada tahun 1814, Cornelius memimpin sekitar 200 pekerja untuk membersihkan area tersebut. Prosesnya tidak mudah. Borobudur saat itu tertutup tanah tebal, semak belukar, dan pepohonan besar.
Pekerja harus menebang pohon, menggali tanah, dan membersihkan batu satu per satu. Perlahan namun pasti, struktur candi mulai terlihat. Relief-relief indah dan arca Buddha yang tersembunyi selama ratusan tahun kembali muncul ke permukaan.
Inilah momen penting dalam sejarah ditemukannya kembali Candi Borobudur.
Kondisi Borobudur Saat Ditemukan
Saat pertama kali ditemukan kembali, kondisi Borobudur sangat memprihatinkan. Banyak bagian runtuh, arca rusak, dan relief tertutup lumut. Beberapa batu bahkan telah dipindahkan atau diambil oleh penduduk sekitar untuk keperluan lain.
Meski demikian, keagungan struktur candi masih tampak jelas. Penemuan ini langsung menarik perhatian kalangan ilmuwan dan pejabat kolonial Eropa.
Penelitian dan Dokumentasi Awal
Setelah penemuan awal, Borobudur mulai didokumentasikan dan diteliti lebih lanjut. Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda melakukan pencatatan sistematis terhadap struktur, relief, dan arca Borobudur.
Borobudur mulai dikenal di kalangan akademisi dunia sebagai salah satu peninggalan Buddha terbesar dan terlengkap yang pernah ditemukan.
Upaya Pemugaran Awal
Pemugaran pertama Borobudur dilakukan pada awal abad ke-20. Namun, keterbatasan teknologi dan dana membuat hasilnya belum maksimal. Beberapa bagian masih rentan runtuh, dan sistem drainase candi belum tertangani dengan baik.
Meski demikian, upaya awal ini penting untuk mencegah kerusakan lebih parah dan membuka jalan bagi pemugaran besar di masa depan.
Pemugaran Besar-besaran dan Peran Dunia Internasional
Puncak upaya pelestarian Borobudur terjadi pada tahun 1970-an melalui kerja sama antara pemerintah Indonesia dan UNESCO. Proyek ini menjadi salah satu program restorasi cagar budaya terbesar di dunia.
Ribuan batu dibongkar, dibersihkan, dan dipasang kembali dengan sistem yang lebih kuat. Drainase diperbaiki, dan struktur candi diperkuat agar tahan terhadap cuaca dan gempa.
Pada tahun 1991, Candi Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menegaskan nilai universalnya bagi umat manusia.
Dampak Penemuan Borobudur bagi Indonesia
Sejarah ditemukannya kembali Candi Borobudur membawa dampak besar bagi Indonesia. Borobudur menjadi simbol kejayaan peradaban Nusantara kuno dan bukti bahwa Indonesia memiliki warisan budaya kelas dunia.
Selain itu, Borobudur berkembang menjadi destinasi wisata utama yang mendukung ekonomi lokal dan nasional. Ia juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, khususnya perayaan Waisak bagi umat Buddha.
Borobudur dalam Pandangan Dunia Modern
Kini, Borobudur tidak hanya dipandang sebagai bangunan kuno, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan tentang filsafat, seni, dan teknologi masa lalu. Relief-reliefnya menyimpan kisah kehidupan, ajaran moral, dan pandangan kosmologi yang mendalam.
Penemuan kembali Borobudur mengajarkan bahwa warisan budaya bisa saja terlupakan, tetapi dengan kepedulian dan ilmu pengetahuan, nilai-nilai masa lalu dapat dihidupkan kembali.
Pelajaran dari Sejarah Penemuan Borobudur
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur mengajarkan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya. Tanpa rasa ingin tahu Raffles, kerja keras para peneliti, dan upaya pelestarian berkelanjutan, Borobudur mungkin hanya akan menjadi legenda.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa alam dan waktu dapat menyembunyikan keagungan, tetapi tidak dapat menghapus nilainya.
Penutup
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur adalah kisah tentang kehilangan dan penemuan kembali. Dari candi megah yang tertimbun tanah dan hutan selama ratusan tahun, Borobudur bangkit menjadi simbol kebesaran budaya Indonesia dan warisan dunia.
Penemuan kembali Borobudur bukan hanya peristiwa arkeologis, tetapi juga momentum kebangkitan kesadaran akan pentingnya sejarah dan identitas bangsa. Hingga hari ini, Borobudur terus berdiri sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu dan inspirasi bagi generasi masa depan.